15.2.11

(?)

“Aku tahu.”

Tahu apa?

“Pentas meriah lagi.”

Siapa bilang?

“Mata. Sampai sakit dibuatnya.”

Jangan terburu-buru.

“Aku tenang.”

Tidak semua yang terlihat, terdengar, dan terasa memang benar-benar benar.

“Ah.. jangan sok bijak!”

Kulik dulu, kantongi asumsimu, baru bebas menyimpulkan.

"Dilarang mendikte!"

Terserahlah.

“Sudah jelas.”

Apanya?

“Intuisi tidak pintar bohong.”

Kau sok tahu!

“Banyak bukti. Lebih dari sering.”

Dan kali ini kau percaya?

“Hmm…“

Maksudnya? Setengah percaya?

“.....“

Sangat percaya?

“.....“

Pasti ragu. Benar kan?

“Aku pulang saja.”

Kemana?

“Dimana aku seharusnya.”

Aku yakin kau tidak yakin. Benar kan?

“Belakang pintu. Tempat terbaik seuniverse.”

Apa?

"Apanya yang apa?"

Apa susahnya mengiyakan kalau masih ingin tinggal? Ah, sudahlah akui saja. Pengecut!

“.....“

Diammu ambigu.



Layaknya kembang api, ia pun (terus) meletup.

Memercik dibalik diam.

Tenang, dalam pengasingannya, (masih) ia sempatkan membisikan doa.

Ketika malam semakin malam dan dingin menjadi lawan.

Sampai pada saatnya datang juru selamat.

Nanti…



--------------

Selatan Jakarta, Januari 2011

No comments:

Post a Comment