“Apa yang paling kau benci?”
“Internet. Sosial media. Mereka genit sekali, juara satu mencuri hati. Pekerjaanku jadi puzzle.
Kau apa?”
“Itu kau yang tidak bisa fokus. Payah!
Sepenuhnya aku benci diriku sendiri. Kau boleh memanggilku bangsat kalau mau.”
“Matahari tahu kedatangannya sering tak diharap. Paling dihindari para pemburu malam. Apa pernah ia berhenti?”
“Itu karna ada pagi setelah malam. Suka tidak suka harus disambut. Seperti judul buku karangan Kartini, habis gelap terbitlah terang.”
“Itu sengaja yang tak disengaja.”
“Maksudnya?”
“Tuhan sudah membuat jadwal mutlak. Ada pagi setelah malam. Itu kesengajaan. Matahari dengan senang hati menjalankan tugas, tak ambil pusing apa ia disambut baik atau tidak.
Merusak mimpi para pengharap yang ingin malam lebih panjang karna percaya doa pada malam harilah yang paling didengar atau membangunkan mereka yang baru lelap satu-dua jam, secara sengaja sudah diatur oleh Tuhan. Tapi untuk matahari itu ketidaksengajaan. Ia tidak pernah meminta dan mungkin tidak tahu kalau datangnya akan membuka masalah. Ia cuma tahu bagaimana tersenyum yang baik.
Sama sepertimu.”
“Apanya? Bagian mana?”
“Kau terlalu sibuk. Waktumu habis untuk menyalahkan diri sendiri. Sampai tak melihat.”
“Aku tak butuh pembela. Aku bosan dibela!”
“Cepat sadar!”
“Harusnya aku lebih tenang. Harusnya sadar kalau terlalu pagi. Harusnya tak buru-buru mematenkan. Harusnya hati-hati. Harusnya tahu diri. Harusnya …..”
“Terlalu banyak harusnya.”
“Ah!”
“Semua di luar kontrol.”
“(phew!) Andai aku pengendali yang baik.
Pada waktu itu.”
------------------
Selatan Jakarta, 220311
(untuk teman saya. lekas sembuh, segeralah membaik. semoga….)
No comments:
Post a Comment